Tidak ada kehinaan yang paling hina pada seseorang kecuali kondisi hatinya yang selalu lengket dengan suasana bumi.(Ibn al-Jauziy)
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

28/01/10

Kehidupan, so simple, and yet so complicated ...........

Sahabat saya yang hatinya sama kuatnya dengan siapa pun yang ikhlas menguatkan dirinya,

Ini adalah pengertian yang ingin saya sampaikan kepada Anda, bahwa

Resiko adalah ukuran dari kebijakan yang harus kita bangun dalam kecepatan maju kita.

Resiko bukanlah ancaman yang pasti terjadi, karena hampir semua dari ketakutan-ketakutan dalam kehidupan Anda, tidak pernah betul-betul terjadi.

Apakah ada dari yang Anda takuti jika Anda berhenti bekerja, dan kemudian berbisnis sendiri – yang betul-betul terjadi?

Bagaimana mungkin terjadi? Khan Anda masih berkutat dalam pekerjaan sama yang selama ini Anda keluhkan dan Anda jadikan alasan bagi buruknya temperamen dan tidur Anda?

Dan bagaimana dengan mereka yang berani berhenti bekerja dari perusahaan yang produknya merusak kesehatan, yang membuang limbah ke sungai, merampok hutan, yang menyuap pejabat untuk ijin berbisnis dengan tidak jujur?

Apakah mereka berhenti bekerja, atau berhenti menafkahi diri dan keluarga dengan uang yang dikumpulkan oleh pembayar gajinya dengan cara-cara tidak berkah?

Apakah mereka mengambil resiko, atau mereka berpihak kepada keputusan yang membahagiakan Tuhan?

Apakah kita se-berserah dia kepada Tuhan, dan percaya bahwa akan selalu ada rezeki bagi kita yang setia kepada yang benar?

Apakah ketakutan kita untuk tidak dapat sedikit uang dari pembayar yang tidak amanah itu, memantek kita untuk mengharapkan bayaran dari tempat yang tidak mulia niat-niatnya?

Apakah kita sedang menukarkan Tuhan dengan harga yang rendah?

………..

Maka apa pun yang kita takuti dalam mengambil keputusan yang benar – tidak dapat disebut resiko.

Kesediaan bertindak di hadapan resiko adalah tanda besarnya kemampuan kita untuk berserah kepada Tuhan.


………..

Sahabat saya yang baik hatinya,

Mungkin kemudian Anda bertanya,

Bagaimana jika betul-betul ada masalah yang timbul karena kita mengambil keputusan yang tegas untuk mengubah keadaan?

… jika masalah itu betul-betul timbul, bergembiralah, karena itu adalah masalah orang yang sedang dalam perjalanan naik.

Karena, jika keputusan itu tidak Anda ambil, Anda khan masih tetap harus berhadapan dengan masalah Anda sekarang?

Dan bukankah masalah Anda sekarang adalah masalah orang yang bertahan dalam keadaan yang tidak disukainya?

Dan karena Anda tidak bisa menghindari masalah, mengapakah Anda tidak memilih menghadapi masalah yang penyelesaiannya adalah keberhasilan untuk naik kelas?

Apakah yang bisa Anda harapkan dari menyelesaikan masalah di tempat yang tidak memperbaiki kelemahan yang disediakan sebagai kualitas hidup Anda?

... hemm …, kelihatannya Keberanian adalah kehebatan yang terlalu dibesar-besarkan.

Orang yang berpikir logis, dan berpihak kepada yang penting baginya, yang takut menyia-nyiakan hidupnya dengan keluhan berkepanjangan, dan berserah kepada Tuhan dalam mendorong dirinya untuk melakukan yang diketahuinya benar, … sebetulnya orang seperti inilah yang bisa disebut berani.

Keberanian adalah ukuran keberserahan kita kepada Tuhan, dalam melakukan yang kita ketahui benar.

Dan yang ini tak terbantahkan, bahwa

Mengetahui apa yang benar, dan kemudian betul-betul melakukannya, bukanlah untuk setiap orang.

………..

Sahabat saya yang pikirannya logis, dan yang hatinya ikhlas,

Bukankah sering kita temui orang-orang yang berbicara lantang mengenai perubahan, tetapi yang sebetulnya adalah pribadi peragu, yang telah lama membiarkan dirinya merasa berhutang dalam penundaan keputusan yang baik bagi kehidupannya sendiri?

Bukankah sering kita temui orang yang gemar bertengkar dan berani berkelahi sampai mati untuk mempertahankan pendapatnya mengenai hal-hal yang tidak penting, tetapi takut sekali untuk memulai perubahan baik yang ditunggu oleh keluarganya?

Mengapakah ada orang yang demikian gemar bertengkar dan berani berkelahi, tetapi sangat takut untuk menghadapi masalah di jalan kehidupan yang lebih baik?

Memang aneh, tetapi ada orang yang merasa lebih damai bergaul dengan setan yang sudah lama dikenal, daripada malaikat yang baru menjadi tetangga.

………..

… kehidupan, so simple, and yet so complicated.

Kehidupan ini demikian sederhana dan wajar bagi yang mengerti, dan demikian pelik dan sulit bagi yang tidak mengerti.

Dan akan lebih sulit lagi kehidupan ini, bagi orang yang mempersulit dirinya sendiri untuk menerima pengertian baik.

Pengertian adalah ilmunya kehidupan.

Yang mengerti, hidupnya akan baik.
Yang belum mengerti, hidupnya masih membutuhkan perbaikan.

Tetapi, akan selalu ada orang yang tidak mengerti, tetapi yang menganggap orang lain yang tidak mengerti.

Jika dia mendengar nasehat yang tidak sama dengan yang selama ini dimengertinya, dia membantah, dan mencibir dengan mantra pengerdilan kehidupan dirinya sendiri, yaitu

“Memang lidah tak bertulang. Bicaranya sih, gampang, tetapi pelaksanaannya itu khan tidak semudah itu?”

Betul sekali, memang mengatakannya mudah, tetapi melakukannya sulit.

Itu sebabnya orang-orang yang lebih bersungguh-sungguh, lebih berhasil daripada dirinya, karena mereka berhasil melakukan nasehat yang didengarnya itu.

Sedangkan dia memprotes dari keadaan yang lemah, dan tidak berencana untuk mencoba.

Keberhasilan itu ada di alam tindakan, bukan di alam wacana dan diskusi yang jauh dari tindakan.

Yang saya nasehatkan kepada diri saya sendiri, adalah:

“Jika engkau meragukan nasehat yang telah menghebatkan kehidupan orang lain, jangan umumkan kecilnya hatimu dengan mengkritik yang tidak kau mengerti.”

………..

Sahabat saya yang sedang menyesuaikan ukuran dari impian-impiannya dengan kesungguhan dari tindakan-tindakannya,

Ingatlah, bahwa

Seseorang yang takut resiko, akan memperlakukan mobil Formula-1 seperti becak.

Dan dengannya, dia akan memimpin kehidupannya, yang sebetulnya sebanding dengan kehidupan yang telah menjadikan orang-orang besar dalam sejarah itu, seperti sebuah permainan yang bisa diulanginya nanti, jika dia ada waktu.

Jika kita tidak bekerja bersungguh-sungguh dalam melakukan apa pun, kita harus memiliki waktu untuk memperbaiki kerusakan atau rendahnya kualitas hasil dari pekerjaan yang dilakukan dengan setengah hati itu.

Jika kita hidup dengan setengah hati, apakah kita akan memiliki waktu untuk memperbaikinya, saat kita menjadi pribadi tua yang lemah nanti?


Sahabat saya yang tegas hatinya,

Kehidupan ini sedang berlangsung, di sini, dan sekarang.

Kapankah Anda akan betul-betul berada, sadar, dan berperan dalam kehidupan Anda?

Janganlah melamun lagi.

Tetapkanlah pandangan Anda kepada kehidupan.

Inilah kehidupan Anda.

Hiduplah dengan sepenuhnya, agar Tuhan memenuhkan kehidupan ini bagi Anda.


………..

(Mario Teguh Golden Ways)

Baca lagi >>>

02/05/09

Faedah dari Musibah

Musibah mampu mengeluarkan nilai-nilai ubudiyah doa yang selama ini terpendam. Dikatakan, “Maha Suci Dzat Yang telah Mengeluarkan (ketulusan) doa dengan musibah.” Dalam atsar disebutkan: “Allah menurunkan ujian kepada seorang hamba yang shaleh dari hamba-hamba_Nya. Dan kepada para malaikat Dia berkata, ‘Agar Aku mendengar suara (doa dan permintaan)nya’.”


Faedah lainnya, dihancurkannya kesombongan dan keangkuhan jiwa, sebab Allah berfirman:
”Ketahuilah! Sesungguhnya manusia melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.”
(Qs. Al-Alaq: 6-7)


Musibah juga menggugah empati sesama manusia, semakin merekatkan rasa cinta terhadap sesama, dan saling mendoakan kepada yang sedang tertimpa. Karena manusiawi sekali bila orang-orang merasa terpanggil untuk bertanggung jawab dan mencintai orang yang sedang tertimpa musibah dan mendapatkan ujian.


Musibah itu akan membukakan mata mereka kepada yang lebih besar. Yang mereka lihat itu kecil dibandingkan dengan musibah lain yang lebih besar. Kemudian mereka menerima bahwa semua itu merupakan penebusan dosa dan kesalahan, sekaligus pahala dan ganjaran di sisi Allah. Jika umat manusia itu menyadari bahwa semua ini adalah buah yang bisa dipetik dari musibah maka mereka akan menghadapinya dengan senang dan tenang.


”Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”

(Qs. Az-Zumar: 10)


(Laa Tahzan ~ Dr. 'Aidh al-Qarni)

Baca lagi >>>

26/04/09

Semua ada waktunya

Wahai sahabat…
Pernahkah engkau merasa kecewa karena sesuatu yg sangat kau inginkan tidak terjadi?

Waktu itu… kau ingin sekali menggapai hal itu.
Hal yang sangat kau harapkan.
Dan dirimu sangat bersemangat untuk meraihnya.
Perasaanmu berbunga-bunga dan semuanya terlihat menyenangkan dihadapanmu.

Namun semangat itu berubah menjadi kekecewaan ketika ternyata kau dihadapkan dengan kenyataan, bahwa… hal yang kau inginkan itu tidak terjadi.

Senyum pun hilang dibibirmu. Rasa kecewa mulai merasuki hatimu.
Dan perlahan.. kau mulai menyalahkan orang disekitarmu,
Menyalahkan hal-hal yang engkau anggap sebagai penyebab tidak terjadinya hal yang sangat kau harapkan.

Bahkan... kau mulai menyalahkan Allah, dengan bergumam ”ini tak seharusnya terjadi”.

Wahai sahabat... yang sedang mengalaminya
Setiap yang terjadi dalam hidup kita sudah diperhitungkan dengan sempurna oleh Allah. Oleh Dia Yang sangat ”malu” melihat hamba_Nya, yang mengangkat tangannya berdo’a dan menurunkan tangannya dengan tangan hampa.

Saat itu... ada hal yang ”lebih baik” yang harus ”terjadi”.
Yang akan membuatmu menjadi pribadi yang lebih baik, sesuai dengan yang ”engkau inginkan”.

Masih ingatkah engkau dengan ”do’a” mu yang pernah kau kirimkan kepada_Nya ?
Atau keinginan sucimu yang pernah melintas di hatimu dihari yang lalu?

Ketahuilah... bahwa Allah tidak pernah melupakannya.

Kekecewaan yang kau rasakan seharusnya tidak perlu kau rasakan, jika kau tau bahwa: kenyataan yang berbeda dengan yang kau harapkan itu... tidak lain adalah jalan yang yang ”harus” kau tempuh agar kau bisa mendapatkan ”harapanmu” yang lebih besar dan lebih baik bagimu dibandingkan dengan harapanmu saat ini.

Karena dulu... Allah mengenali dan menerima do’amu sebagai do’a kebaikan.
Karena Allah hanya menerima dan mengabulkan do’a-do’a yang baik.

Oleh karena itu... Allah mengabulkan ”harapanmu” yang besar dan baik itu, yang mungkin engkau sendiri telah lupa, dengan jalan-jalan yang paling baik menurut-Nya, Yang Paling Mengetahui jalan yang terbaik.
Karena Dia sangat ”menginginkan” yang terbaik bagimu, lebih dari keinginan dirimu.
Karena Dia sangat ”menyayangi” mu, lebih dari dirimu.

Maka...
Wahai sahabatku yang kucintai karena Allah...
Jangan bersedih...
Karena Allah senantiasa memberikan ”harapan-harapanmu yang terbaik”.
Allah akan memberikan ”harapan” mu ”lebih” dari yang kau harapkan.
Dia Maha Kaya, Maha Kuasa, Maha Pemberi.

Sangat mudah bagi_Nya untuk memberimu
Hanya saja kau harus menunggu... sampai tiba waktunya
Waktu yang terbaik ”bagimu” untuk menerima harapanmu.

Wahai hati yang sedang menginginkan...
Wahai diri yang gundah...
Tuntunlah dirimu untuk mengetahui hal ini.

Ketahuilah...bahwa semua ada waktunya.

Pada waktunya, engkau akan mendapatkannya
Bersabarlah...
Seperti sekuntum bunga yang menunggu akan mekarnya, begitu pula dirimu yang pada waktunya akan mekar bagai bunga karena mendapatkan kebahagiaan.

Sehingga kau tidak perlu menyusahkan hatimu untuk berpikir yang tidak perlu kau pikirkan.
Agar kau menjalani hari-harimu dengan penantian yang menyejukkan..

Baca lagi >>>

11/04/09

Indahnya Doa

Ketika manusia mendapatkan musibah demi musibah sehingga membuat jiwanya sempit dan terguncang, biasanya ia akan datang kepada orang lain untuk mencurahkan isi hatinya. Ia tidak bisa membiarkannya berlarut-larut. Meskipun demikian, orang yang tertimpa musibah itu akan merasa senang karena telah mengeluarkan isi hatinya yang penuh sesak. Jika ia pergi kepada orang lain yang ia tahu bahwa orang itu mampu mengatasi problem yang dihadapinya, maka ia merasa lega ketika ia bisa mengeluhkan musibah yang dihadapinya.

Keluhan bagi manusia, betapa pun, dapat mengurangi kelezatan dan kegembiraan. Sebab, ia merasa bahwa dirinya berada dalam keadaan lemah sehingga orang lain yang tidak beda dengannya menolongnya. Pertolongan adalah salah satu sifat kuat yang tidak dimiliki oleh orang yang tertimpa musibah pada saat itu. Meskipun ia merasa gembira, tapi kegembiraan tersebut terasa berkurang karena perasaan tersebut.

Tetapi apabila ia kembali kepada Allah yang Maha Memiliki kerajaan lagi Mahakuasa atas segala sesuatu, mengadukan musibah yang menimpanya berikut segala penderitaan yang dia rasakan, dan meminta segala yang dikehendakinya di hadapan Allah, maka hal itu dapat menumbuhkan izzah 'harga diri' pada dirinya. Sebab, ia kembali kepada Rabb semesta alam dan merasa butuh pada pertolongan_Nya, sedangkan Dia tidak butuh bantuan makhluk_Nya, dan Dia dapat menghilangkan seluruh kesempitan dan kedukaan yang menyesakkan hatinya.

Setelah ia dapat mengosongkan segala yang ada di dalam hatinya, dengan air mata bercucuran sebagai tanda ketundukan dan pengakuan atas kelemahan dirinya di hadapan Allah, maka bertiuplah angin kelezatan ke dalam hatinya, sehingga ia dapat merasakan keindahannya. Kelezatan ini semakin tampak jelas ketika dia sedang bersujud, yang merupakan bentuk ketundukan yang paling tinggi kepada Allah dan yang memposisikan seorang hamba lebih dekat kepada_Nya. Karenanya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

"Sedekat-dekat hamba kepada Allah adalah saat sujud, karena itu perbanyaklah berdoa (dalam sujud)."(HR.Muslim)

Nikmat yang diperoleh dari berdoa, merendahkan diri, dan pengakuan tulus (atas kelemahannya) di hadapan Allah Subhaanahu wa Ta'ala, itulah yang menopang Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pada periode Mekah. Tatkala beliau menghadapi berbagai macam kesulitan dan menyesakkan hati, berupa penolakan kaum kafir terhadap dakwah yang beliau serukan. Beliau memanggil Bilal dan berkata kepadanya,

"Berdirilah Bilal, dan hiburlah kami dengan shalat."
(HR. Abu Daud, dengan sanad shahih)

Dengan demikian, shalat menjadi hiburan tatkala beliau tertimpa musibah.


Sumber: Ta'ammulat Ba'da Al Fajr ~ Syaikh Abdul Hamid al-Bilali

Baca lagi >>>

Read me...

free counters
 
bisnis internet